Selasa, 18 Oktober 2011

Ciri-Ciri Lingkungan Sehat dan Lingkungan Tidak Sehat

oleh - crayonpedia




Manusia dan makhluk hidup lainnya sangat membutuhkan udara untuk bernapas. Udara yang dihirup mengandung oksigen. Udara yang kita perlukan untuk bernapas adalah udara yang bersih. Udara yang bersih banyak mengandung oksigen. Selain udara, manusia membutuhkan air untuk mandi, minum, dan memasak. Kamu memeroleh udara dan air dari lingkungan sekitarmu. Oleh karena itu, kamu harus selalu menjaga lingkungan sekitarmu agar kamu mendapat air dan udara yang bersih dan segar.

1. Lingkungan Sehat

Pernahkah kamu berjalan-jalan bersama ayah dan ibumu ke luar kota yang jauh dari keramaian? Kamu akan merasakan udara di sekitar tempat itu sangat segar dan bersih. Udara yang bersih itu banyak mengandung oksigen yang baik bagi tubuh kita. Udara yang bersih dapat kamu peroleh di rumah. Ketika bangun pagi, hiruplah udara di halaman rumahmu, kemudian rasakan udara yang masuk ke dalam paru-parumu. Terasa nyaman dan segar, bukan?

Jumat, 14 Oktober 2011

Sekilas Mengenal Kesehatan Sosial


 Sehat menurut WHO adalah  segala bentuk kesehatan badan, rohani/mental dan bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat atau kelemahan-kelemahan. Sedangkan sehat menurut UU No. 23/1992 adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Kesehatan jiwa, seperti yang diatur dalam lembaran Negara RI No. 2805 yaitu suatu keadaan/kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, mental dan emosional dari seseorang dan perkembangan itu berjalan secara selaras dengan perkembangan orang lain. Masyarakat adalah sekelompok orang yang memiliki identitas sendiri dan mendiami wilayah atau daerah tertentu serta mengembangkan norma-norma yang harus dipatuhi oleh para anggotanya.
Kesehatan sosial memiliki makna peri kehidupan dalam masyarakat, dimana perikehidupan ini harus sedemikian rupa sehingga setiap orang cukup kemampuan untuk memelihara dan mewujudkan kehidupan sendiri maupun kehidupan keluarganya dalam masyarakat yang memungkinkan ia dapat menikmati hiburan.

Rabu, 12 Oktober 2011

Peduli Sesama

Oleh Sholehudin A Aziz

Sebuah kisah disampaikan Abu Khubaisy kepada murid-muridnya. Suatu hari Abdullah bin Umar, khalifah yang terkenal sebagai pembangun Bait al Maqdis, terserang penyakit. Para asistennya sangat mengkhawatirkan umur khalifah karena penyakitnya itu. Ternyata, Allah SWT belum berkenan memanggil Abdullah ke haribaan-Nya. Khalifah berangsur-angsur pulih.

Setelah kondisi kesehatannya membaik, sang khalifah berkeinginan untuk menyantap ikan panggang. Mendengar keinginan itu, para pembantunya langsung mencari ikan dan memanggangnya. Hidangan ikan panggang yang aromanya begitu memikat meningkatkan selera makan khalifah. Ia ingin segera menyantapnya.

Pada saat khalifah akan memulai makan, tiba-tiba muncul seorang musafir yang tampak sangat kelaparan. Serta-merta, Khalifah Abdullah bin Umar menyuruh pembantunya segera mengangkat hidangan yang ada di hadapannya dan memberikannya kepada si musafir. Perintah itu membuat para pembantunya protes sebab merasa jerih payahnya tak dinikmati khalifah.

Senin, 10 Oktober 2011

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri


Oleh : Tama Tamba



Masalah kemiskinan di Indonesia semakin menyulitkan kondisi hidup masyarakat. Berdampak ke segala aspek kehidupan manusia, dan kemiskinan itu telah mempersempit kesempatan masyarakat kurang mampu atau miskin untuk mendapatkan akses pelayanan dasar manusia, seperti kebutuhan sandang, pangan, sanitasi dan air bersih, pendidikan serta layanan kesehatan.

Penanganan kemiskinan sebenarnya telah ada sejak masa pemerintahan orde baru, saat itu ada program kegiatan ABRI Masuk Desa (AMD), Inpres Desa Tertinggal (IDT). Dari masa ke masa penanganan masalah kemiskinan tersebut sepertinya tidak berhasil dalam menangani masalah kemiskinan, bukti realitanya jumlah masyarakat miskin dari tahun ke tahun, dari masa ke masa semakin bertambah. Berbagai program penanggulangan kemiskinan saat itu tidak bersifat berkelanjutan dan dilaksanakan secara parsial.

Partisipasi dari masyarakat dalam program penanggulangan kemiskinan yang dicanangkan oleh pemerintahan ternyata sangat minim, masyarakat baik itu secara individu maupun kelompok berperan sebagai objek bukan sebagai subjek. Untuk itulah masyarakat semakin tidak berdaya dalam menjalani kehidupannya, posisi mereka semakin terjepit, terintimidasi oleh suatu realita hidup yang mengharuskan mereka berfikir keras bagaimana caranya mendapatkan modal (uang) untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup mereka.

Kamis, 06 Oktober 2011

Kecerdasan Sosial

Oleh : Rizqa Derfiora

Sepuluh tahun yang lalu dipenghujung Desember tahun 1999 saya kebetulan pernah menulis sebuah artikel disitus berpolitik.com yang mengilustrasikan realita lalu lintas di ibukota sebagai cerminan realita masyarakat Indonesia umumnya termasuk didalamnya realita politik dan hukum.

Walaupun lalu lintas kita telah dilengkapi dengan rambu-rambu, sistem lampu merah dan pembatas jalan yang jelas, namun keberadaan infrastruktur ini belum mampu menjadikan lalu lintas teratur di sata-saat kritis. Ketika lalu lintas menjadi ramai dan macet, maka rambu-rambu itu tidak segan-segan dilanggar, lampu merah sering diacuhkan, setiap pengemudi menanti kesempatan menyalip merubah jalur, batas jalan untuk dua jalur bisa tersihir menjadi empat jalur dan hampir di setiap persimpangan jalan yang macet atau jalan putar balik tiba-tiba diramaikan para „polisi” cepek. Itulah realitas lalu lintas ibukota.

Senin, 03 Oktober 2011

Mantan Tukang Becak yang Ulet dan Tekun



Sosoknya begitu sederhana, penampilannya santai, kulitnya coklat tua dan rambutnya sudah beruban itulah Victory (74). Seorang kakek penjual batu akik di sepanjang jalan P. Senopati Yogyakarta yang mungkin sekilas tak akan tampak istimewa bagi anda, apalagi ditengah kilauan batu akik yang ia jual. Namun di balik kesederhanaannya itu, laki-laki kelahiran 1937 tersebut ternyata adalah seorang yang sangat ulet dan tekun.

Kakek Victory adalah seorang perantauan asal Madura. Sebelum berjualan batu akik, ia dulu bekerja sebagai tukang becak dan petani. Dua profesi itu ia tekuni sekaligus untuk menyambung hidup. “siang bertani, dan malam ngebecak. Yang penting bisa menyekolahkan anak” ujarnya diiringi senyum santai.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Anak 6 Tahun, Memulung Demi Menghidupi Ayahnya yang Lumpuh


forumkompas.com

Satu lagi sebuah kisah yang sangat mengharukan dari Negeri Tirai Bambu, seorang anak kecil di Dajiyuan, menghidupi ayahnya yang lumpuh dengan menjadi seorang pemulung. Karena ayahnya lumpuh bertahun-tahun, anak yang baru berumur 6 tahun ini terpaksa memikul tanggung jawab rumah tangga.

Selain setiap hari mencuci muka ayahnya, memijat dan memberi makan, dia masih bersama ibunya mengambil botol air mineral bekas sebagai tambahan pendapatan keluarga. Cerita Tse Tse ini banyak menyentuh hati teman di internet, hanya beberapa jam, sudah puluhan ribu orang yang mengkliknya.