Kamis, 29 September 2011

Menguatkan Ketahanan Sosial Bangsa dengan Tradisi Implengan

Oleh : Cahyadi Takariawan



Tadi malam (Minggu, 25 September 2011) kelompok ronda saya kebagian jatah jaga malam. Di kampung kami, Mertosanan Kulon, desa Potorono, kecamatan Banguntapan, kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, ronda dilakukan di rumah-rumah penduduk. Bergantian, sehingga semua rumah warga kebagian jatah ketempatan ronda. Saya menjadi tuan rumah ronda tadi malam.
Satu kelompok ronda rata-rata terdiri dari 12 warga, yang mendapat jatah jaga keamanan kampung sepekan sekali. Kelompok saya mendapat jatah Minggu malam, atau kalau dalam tradisi kampung kami menyebutnya dengan “malam Senin”. Lebih khas lagi, di kampung saya tidak menggunakan istilah ronda, namun “implengan”. Kami menyebut, tadi malam itu adalah jatah implengan malam Senin.
Terus terang saya sendiri tidak tahu maksud kata “implengan”. Tadi malam, sempat saya tanyakan kepada beberapa warga senior yang menjadi anggota implengan malam Senin. Yang saya heran, ternyata mereka juga tidak bisa memberikan penjelasan mengenai makna kata implengan.
“Begitulah kita menyebut ronda selama ini. Sudah dari dulu zaman bapak dan kakek kita, menggunakan istilah implengan. Maksudnya ya ronda ini”, kata pak Syaifudin, sesepuh kampung yang menjadi anggota implengan malam Senin.

Rabu, 28 September 2011

Wow, Ada Kampung Cyber di Yogyakarta..!

Oleh : Rona

Sekilas, kehidupan di kampung ini biasa saja. Namun, segera terlihat berbeda ketika kita mengintip ke gardu siskamling yang terletak di tengah kampung. Di kampung ini, kerumunan warga yang tengah beraktifitas di pos ronda, tidak mengisi kegiatannya dengan ngerumpi, tapi sedang berselancar di dunia maya. Bahkan, anak-anak juga asyik dengan laptop dan komputer yang tersedia di pos ronda. Ibu-ibu juga terlihat serius mencari ide untuk menghias tumpeng lewat internet, atau berbagai kebutuhan lainnya. Lain halnya dengan para bapak, mereka asyik belajar membuat blog.

Itulah aktifitas warga di Kampung Cyber setiap sore. Sejak gardu siskamling di kampung itu - atau biasa disebut 'Cangkruk' - terkoneksi jaringan internet sejak tahun 2009, warga bebas menggunakan sebuah komputer meja dan laptop dan mengakses internet dari hasil swadaya.
Adalah Heri Sutanto, seorang pekerja laboratorium di sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, yang mulanya mencetuskan ide untuk mengenalkan teknologi informasi kepada warga yang sangat awam akan teknologi.

Selasa, 27 September 2011

Energi Sosial Budaya dan Lokalitas: Titik Fokus Konsep Pemberdayaan


Dalam masyarakat, ada yang dinamakan sebagai energi sosial budaya, atau lazim disebut sebagai energi sosial saja, yang merupakan suatu daya internal yang menunjukkan pada mekanisme dalam mengatasi masalahnya sendiri.


Uphoff (Sayogyo, 1994:154) memberikan batasan bahwa energi sosial tersebut bersumber pada tiga unsur, pertama, gagasan (ideas) yaitu buah pikiran progresif yang trampil dan dapat diterima bersama. Kedua, idaman (ideals) atau harapan bagi kepentingan bersama, yaitu wujud kesejahteraan bersama sebagai buah realisasi gagasan sebelumnya. Dalam hal ini berlaku suatu norma dasar “berbuatlah bagi orang lain sebagaimana orang lain berbuat bagimu”.


Ketiga, persaudaraan (friendship) yaitu wujud solidaritas dalam suatu satuan sosial sebagai daya utama dalam proses mencapai idaman yang telah dikukuhkan. Energi sosial ini terwujud dalam ragam kelembagaan lokal dalam masyarakat. Lembaga di sini dipahami sebagai ‘pola perilaku yang matang’ berupa aktivitas-aktivitas, baik yang terorganisasi maupun yang tidak.

Senin, 26 September 2011

Tanda-tanda Anak yang Akan Sukses dalam Kehidupannya

Oleh : Ali


Dalam beberapa buku yang mengupas soal personal development (pengembangan pribadi) berungkali diceritakan tentang percobaan “marshmallow”, suatu jenis permen yang popular di Negara-negara “barat”.

Percobaan dengan menggunakan permen ini dilakukan dengan beberapa anak kecil. Beberapa anak diminta berkumpul dalam suatu ruangan. Masing-masing anak akan diberi satu permen marshmallow. Kepada anak-anak tersebut dikatakan, mereka boleh langsung memakan permen tersebut. 

Jika mereka langsung makan, maka mereka tidak akan diberi lagi. Jika mereka sanggup menunggu satu menit tanpa memakan permen tersebut mereka akan diberi satu lagi. Jika mereka sanggup tidak memakan permennya selama 2 menit, mereka akan diberi satu lagi, demikian seterusnya.

Minggu, 25 September 2011

Kesejahteraan Petani Tak Kunjung Membaik

Oleh : Kadir Ruslan

Mungkin sedikit di antara kita yang tahu kalau Sabtu (24/9) bertepatan dengan Hari Tani. Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan Hari Tani selalu diwarnai unjuk rasa dari ribuan petani. Dan hari sabtu lalu yang terjadi pun demikian, ribuan petani kembali melakukan unjuk rasa di depan Istana Negara yang dilanjutkan long march ke Bundaran Hotel Indonesia. Mengapa peringatan Hari Tani selalu diwarnai dengan unjuk rasa? 

Jawabannya adalah sederhana, hingga kini sebagian besar petani kita tetap miskin dan jauh dari sejahtera.

Selama satu dekade terakhir, tingkat kesejahteraan petani tak kunjung membaik. Petani kita yang sebagian besar adalah petani kecil dan buruh tani tetap miskin. Sektor pertanian−perdesaan tetap saja menjadi kantong kemiskinan. Sekitar 63,2 persen penduduk miskin Indonesia tinggal di perdesaan dan mudah untuk diduga kalau sebagain besar mereka adalah petani kecil dan buruh tani. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Maret 2011, hampir 60 persen penduduk miskin bekerja di sektor pertanian.

Dari Gubuk Berlantai Tanah, Menjadi Juara Astronomi



Gubuk itu sangat sederhana, berlantai tanah, di tengah tegalan Dusun Dualas, Pangongseyan, Sampang, Madura. Tidak akan ada yang menyangka jika gubuk itu dihuni seorang siswi yang baru-baru ini keluar sebagai juara nasional bidang astronomi dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2011 di Manado, Sulawesi Utara.

Kemiskinan justru membuat Siti Fatima terpacu untuk belajar dengan rajin. Kegigihannya tidak hanya dalam belajar. Untuk berangkat ke sekolah yang jauhnya delapan kilometer, siswi kelas tiga SMA Negeri 1 Sampang ini harus berjalan kaki satu kilometer dari rumahnya karena tidak bisa dilalui sepeda motor. Setelah itu baru diantar pamannya ke jalan raya untuk selanjutnya naik angkutan ke sekolah.

Jumat, 23 September 2011

Penelitian Menunjukkan Relawan Lebih Panjang Umur

 OLEH : NI KETUT SUSRINI  

Penelitian yang dilakukan oleh Sara Konrath bersama rekan-rekan dari University of Michigan menunjukkan bahwa orang-orang yang menolong dengan alasan yang berfokus pada orang lain, bisa hidup lebih lama dibanding orang-orang yang tidak suka menolong. Nah, kurang bukti apa lagi, bahwa menolong itu membahagiakan pelakunya, bukan hanya membahagiakan orang yang ditolong.

***********

Sebuah hasil studi menunjukkan bahwa orang-orang yang menolong dengan alasan yang berfokus pada orang lain, bisa hidup lebih lama dibanding orang-orang yang tidak suka menolong. Akan tetapi, jika kegiatan menolong dilakukan dengan fokus diri sendiri, "bonus" umur panjang tidak akan berlaku.

Penelitian yang dilakukan oleh Sara Konrath bersama rekan-rekannya dari University of Michigan mengambil sampel acak sebanyak 10.317 orang dari Wisconsin Longitudinal Study. Para partisipan merupakan lulusan SMA tahun 1957, pada tahun 2008 usia mereka sekitar 69 tahun, dan sekitar setengah dari mereka adalah perempuan.